From Venus. With Love

Close your eyes, and feel love in your heart

  • 16th June
    2014
  • 16
"Some people feel the rain. Others just get wet"

"Some people feel the rain. Others just get wet"

  • 15th June
    2014
  • 15

Ketika Angan dan Angin Menjadi Senada

"Ha? Kamu kok bisa-bisanya suka dia sih? Ngimpi kali ya lo ngarep perasaan lo dibales. Eh, inget dia tuh tinggi banget. Udah deh jangan ngimpi ketinggian ntar jatuh pasti sakit" - Ujar seorang teman.

Setiap kita pasti pernah yang namanya jatuh cinta.
Seperti kata setiap orang, cinta itu ga masuk akal.
Sama seperti setiap kali kita jatuh cinta pada orang yang ga masuk akal dan dengan cara yang gak masuk akal pula.
Contohnya kita jatuh cinta sama artis, sama musuh sendiri, sama orang yang baru dikenal selama 5 detik atau orang yang baru saja berpapasan.
Dan dengan cara yang gak masuk akal pula. Contohnya, jatuh cinta sama orang yang kita tabrak pas keburu-buru masuk kelas, jatuh cinta sama orang yang sms “Hai”, jatuh cinta pada orang yang selalu ngehina kita.

Tapi adakalanya ‘manusia tak masuk akal’ seperti kita tidak cukup memiliki tempat yang cukup masuk akal untuk menceritakan perasaannya.
Keluarga dan teman yang seharusnya menjadi tempat terpercaya untuk menjadi wadah setia cerita kita, kadang malah hanya menimpalinya dengan remeh “Alah, paling juga ntar cinta monyet doang” atau “Lo jangan banyakan ngimpi deh, bisa ketemu dia aja belum tentu dihidup lo apalagi bisa ngambil hati artis semacam dia. Aneh-aneh deh”

Banyak yang pada akhirnya berpikir terlampaui realistis seperti berusaha sekuat tenaga menghapus dan melupakan perasaannya. Menyakiti diri sendiri dengan menahan segala gejolak yang timbul septiap berpapasan atau hanya sekedar melihat sekelibat di twitter atau instagram. Atau saat tidak sengaja mendengar namanya disebutkan oleh beberapa gerombolan remaja sebagai artis yang sedang naik daun.
Sedangkan kamu yang mengenalnya sejak lama sebelum dia menjadi artis walau tidak secara langsung, malah berusaha membunuh perasaan sendiri. 

Akupun pernah mengalaminya dan masih. 
Aku masih menyimpannya.
Menikmati setiap gejolak sakit setiap melihatnya muncul di TV atau saat stalking instagramnya. Mendapatinya sedang merengkuh gadis dalam pelukannya.
Aku bersyukur untuk setiap anugrah sekaligus sakit yang dibawa perasaan ini. 

Seperti kalian juga, terkadang aku juga bingung. Apakah ini angan atau angin.
Sebagaimana angan yang dapat terwujud dengan kerja keras, atau sebagaimana angin yang hanya dapat dirasa bukan untuk dimiliki.
Namun, aku percaya pada satu hal.
Diapun merasakannya, merasa ada seseorang dijauh sana sedang memikirkannya, mendoakannya, selalu mencintainya.
Aku tau itu tidak masuk akal, namun begitulah adanya.
Sekalipun dia saat ini berpikir bahwa seseorang yang dirasakannya sekarang adalah kekasihnya sekarang.

Aku tak keberatan membaginya atau meminjamkannya pada kekasihnya saat ini, yang pada akhirnya akan dikembalikan seutuhnya padaku.

Sekalipun nantinya dia bukan milikku, 
Ketahuilah, bahwa perasaan ini selalu untukmu.

Biarlah tulisan ini menjadi saksi atau sekedar bahan lelucon masa depan saat waktu  menjawab bahwa kamu bukan untukku.

Namun yang pasti, ketahuilah.
Bahwa ada seseorang diujung dunia sana yang selalu mengamatimu pergerakanmu. Selalu menyebut namamu lirih dalam setiap doanya. Berharap kamu akan bahagia dalam hidupmu.

Dan itu aku.

Terima kasih atas pengalaman sakit sekaligus perasaan cinta ini. Aku tahu semakin keras aku mencoba menghalau perasaan ini, semakin dalam pula perasaan ini tertanam kuat.

Aku sedang mencoba merengkuh dirimu sekarang.
Jadi, tunggulah aku di masa depan yang tak akan mengecewakan seperti kekasihmu pada umumnya.

Dari pengagum rahasia dan pencinta yang tak masuk akal.

Monday, June 16th 2014 0:35 am

  • 15th June
    2014
  • 15
Gak ada kata masuk akal untuk sebuah perasaan tak masuk akal bernama ‘Jatuh Cinta’
  • 7th June
    2014
  • 07

Yeah, I not miss you. But I miss us :))

  • 7th June
    2014
  • 07

Paket Untuk Setiap Manusia

"Aku telah berlari sekuat tenagaku. Mencoba mencari segala hal. Ternyata tak ada yang ku temukan. Hnya tepian pantai tanda pelarianku telah berada diujung."

Pelarian. Ketakutan. Dan trauma, seolah sepaket penuh sebuah ujung pemikiran. Proses, Proses, Dan proses. Banyak orang yang capai, menahan perasaan tapi dunia seakan tak kunjung mengerti jua. Capai hati ini menahan segala emosi dan sakit hati setiap gagal mendapat yang dimau. Yang pada akhirnya diam adalah satu-satunya jawaban. Sehingga sakit hatipun terpendam dan membunuh diam-diam.

  • 11th May
    2014
  • 11
  • 11th May
    2014
  • 11

"I love you,"
I repeated for the sixth time that day.
“Why? Why do you love me?” You asked again.
“Because. I just do.”
“I don’t believe you.”

It’s impossible to make someone believe
that you love them.
I am trying so hard to convince you
that I do.
I love your messed up cuticles
and that one dimple on your left cheek.
I love your haircuts
and the old cavities you used to cry about
everytime you went to the dentist.
I love you when you forget to shave your face
and when you won’t let me kiss you
when you think you’ve had too much garlic on your pizza.
I love your swollen lips when we kiss too much
and your arms when they’re wrapped around me
as we just lay there in the dark.
I love you
when you cannot love me
and I love you
when you cannot even tolerate yourself.

Yet you close every door
I try to open.
I need someone to hold the door open,
sometimes.
I can only keep knocking for so long.

Ming D. Liu (via vxis)

read this

(Source: mingdliu, via inhaleddreams)

  • 11th May
    2014
  • 11
  • 4th May
    2014
  • 04

Keberpihakkan

entah geliat liar kenangan, entah jerat keterluntaan

setiap memikirkannya aku melihat pijar di inti mata

sepi yang lahir kembali, reka-ulang megah penciptaan

siksa bangun monumen di tubuh, dengan nama sendiri

nama yang dipuja embun lebih nyaring dari pagi hari

nama yang menganak sungai benua, zaman ke zaman

entah geliat liar kenangan, entah jerat keterluntaan

ini bukan tentang siapa yang jatuh terlebih dahulu

tetapi tentang siapa yang sedia sekarat sampai akhir

jangan takluk, jangan tersungkur oleh keragu-raguan

kelak aku kan jadi kekasihmu yang menyenangkan

karena luka-lukaku ini telah cukup mengenyangkan

Adimasnuel

  • 4th May
    2014
  • 04

GELOMBANG RADIO SEBELUM PAGI

Kota ini, apa mesti diharap lagi
selain kerlip lampu mengungsikan ruang matamu sebelum pagi
dan deru ombak, hiruk orang mabuk tuak, tiang rumah berderak.
 
Kota ini sebuah kubu, katamu, dimana hari lalu mempertahankan
diri sebelum hari depan mendendangkan lagu tentang kehilangan.
 
Sebelum pagi, pada gelombang radio itu seakan aku dengar
suaramu menyeru seperti angin lalu, sebentar dan berlalu.
Sebelum pagi, pada gelombang radio itu suaramu
seakan lenguh para pemburu, napas yang terburu.
 
Di kota ini kita lagu lama sebelum dilupa, kita gerakan terakhir
penari tua sebelum jemarinya bukan lagi bagian tanda bahasa.
 

Esha Tegar, 2013